Selama ini "sunnatullah" yang dipahami kebanyakan orang ialah hukum alam seperti gaya gravitasi bumi, perputaran bumi mengelilingi matahari, air mencari tempat yang paling rendah dan lain-lain yang sejenis itu. Padahal sesungguhnya "sunnatullah" bukan itu saja. Justru yang paling banyak disorot Al-Qur`an sebagai "sunnatullah" ialah fenomena sosial yang berkaitan dengan prilaku manusia dan masyarakat yang jika melanggar "rambu-rambu" tertentu, akan berhadapan dengan ketentuan Allah yang pasti dan tidak akan beranjak walau setapakpun. Umpamanya, suatu kaum yang diuji Allah dengan nikmat dan kekayaan melimpah ruah, tetapi kesenangan itu mereka gunakan untuk kemurkaan Allah seperti hura-hura, foya-foya, dan mengumbar hawa nafsu, akan ditimpakan Allah kepada mereka bencana hebat. Firman-Nya:
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (al-Isra` 16).
Begitu juga manusia-manusia yang tidak mau menerapkan konsep Allah (baik yang bersifat hukum, ekonomi, politik, sosial, dll.) akan menghadapi kehidupan yang "sempit" seperti yang diterangkan Allah dalam surat Thaha: 124. Kehidupan seperti ini bisa diterjemahkan dengan: pertumbuhan ekonomi yang minus, utang melilitpinggang, kondisi sosial yang rawan, hukum yang tidak berwibawa, iklim politik yang mengerikan dengan perebutan kekuasaan, dsb.
Saudaraku.. menjelang ramadhan tahun ini, semoga kita semua senantiasa dalam kondisi terbaik sehingga dapat melaksanakan segala kewajiban kita kami coba mempersiapkan diri dengan semakin memperbanyak artikel-artikel tentang Ramadhan secara umum dan tentang Ibadah puasa secara khusus, di bagian Fikih kami sampaikan artikel tentang hadits Maudhu maupun Dhaif berkaitan dengan ibadah Ramdhan yang disusun oleh Ustadz Farid Nu'man yang merupakan salah satu kontributor artikel kami. kepada beliau kami ucapkan Jazakallah Khoyron Katsir.
Tidak lupa pula, antum semua dapat mendownload panduan Ibadah Ramadhan pada menu download kami, semoga dapat berguna demi kesempurnaan ibadah Ramadhan kita, kami juga menyediakan modul ceramah ramadhan bagi para Da'i, semoga mampu menambah khazanah keilmuan kita semua.
Sebagai Pembuka kami sampaikan bayan Dewan Syari'ah dari sebuah Partai Da'wah yang semoga mampu memacu kita semua untuk mengoptimalisasi bulan Ramadhan kali ini, sehingga kita semua menjadi manusia yang menang dan bertaqwa.
Wassalamu'alaykum Warohmatullahi Wa Barokatuh.
Salam Hangat dan Jabat erat dari kami untuk antum semua
SERUAN OPTIMALISASI IBADAH RAMADHAN
KH. DR. Surahman Hidayat, MA
Bulan Suci Ramadhan kembali datang menyambut orang-orang beriman untuk menaiki tangga ketaqwaan dan meraih kemenangan. Kemenangan atas syahwat, syetan dan musuhmusuh Islam sehingga mengantarkan umat Islam meraih keberkahan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Bulan Ramadhan datang pada saat orang-orang beriman sangat membutuhkan kekuatan iman dan ruhiyah untuk menghadapi kondisi sulit dan berat dalam kehidupan mereka. Kondisi inilah yang dihadapi hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia umat Islam masih dihadapkan pada krisis berat dari semua sisi kehidupan. Sedangkan di belahan dunia Islam lainnya, kondisi mereka tidak lebih baik dari Indonesia. Para da’i di Mesir, Al-Jazair, Tunisia, Pakistan dan lainnya masih banyak yang berada di dalam penjara. Sementara umat Islam di Irak dan Afghanistan menjadi sasaran tembak penjajah Amerika Serikat dan sekutunya. Adapun umat umat Islam di Barat dan wilayah minoritas masih menghadapi problem diskriminasi dan tuduhan teroris. Umat Islam di daerah minoritas semakin tertindas dan di daerah mayoritas tidak dapat bebas melaksanakan Syari’ah Islam.
Oleh : Drs. H. Ahmad Yani (
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad diceritakan bahwa Ketika hari keberangkatan Muadz bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman telah tiba, Muadz berpamitan kepada Rasulullah saw dan para sahabat lainnya. Rasa berat meninggalkan kampung halaman apalagi harus berpisah dengan Rasul membuatnya menangis. Rasul kemudian bertanya: “Mengapa engkau menangis?”. Muadz menjawab: “Wahai Rasulullah, aku menangis karena akan berpisah denganmu”.
Menghadapi kenyataan ini, maka Rasulullah saw berpesan kepada Muadz yang berarti berpesan kepada kita semua. Beliau bersabda:
Janganlah bersedih, karena sesungguhnya bersedih itu datangnya dari syaitan. Wahai Muadz, bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya, dan berakhlaklah kepada orang lain dengan akhlak yang baik. Wahai Muadz, ingatlah selalu kepada Allah azza wa jalla, baik ketika berada di daerah bebatuan, daerah penuh pepohonan maupun daerah perkotaan.